Parade Busana Daerah ke-10, Ternyata Bahan Limbah Bisa Mempesona

TRAVELOUNGE.CO I JAKARTA, 30 Oktober 2018 – Tidak bisa dipungkiri, khasanah budaya Indonesia yang beraneka ragam senantiasa memancarkan pesona tiada henti. Keindahannya memancing kreatifitas. Menumbuhkan keingintahuan yang mendalam untuk terus menggali dan menemu-kenali khasanah budaya yang tersembunyi.

Salah satu pesona budaya tersebut adalah keindahan yang tervisual dari busana. Ragam busana tersebut ditampilkan dalam pergelaran ‘Parade Busana Daerah Ke-10’ di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini “Indonesia” Indah (TMII), Jakarta, Minggu (28/10/2018).

Puluhan seniman, yang terdiri dari perancang busana, perias, dan peraga, turut ambil bagian di acara yang dihelat Manajemen Badan Pengelola dan Pengembangan Taman Mini “Indonesia” Indah (TMII) ini.

Acara ini diikuti para peserta dari berbagai provinsi di Indonesia, antara lain; Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan daerah lainnya.

Tetapi tidak sebagaimana lazimnya peragaan busana pada umumnya. Pergelaran ‘Parade Busana Daerah Ke-10’ dikemas dengan sentuhan budaya yang eksotik dan menarik. Karena memang temanya ‘Busana Pengantin,’ maka setiap peragaan busana selalu diikuti ritual tradisi masing-masing daerah yang divisualkan melalui tari.

Direktur Utama Taman Mini “Indonesia” Indah (TMII), Drs. Tanribali Limo, SH, dalam sambutan tertulis menyampaikan, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para penggiat seni tata busana. “Kami ingin memberi kesempatan kepada designer, khususnya dari daerah untuk mengembangkan potensinya. Ajang ini diharapkan dapat memacu kreatifitas dalam menciptakan karya-karya inovatif di bidang tata busana yang merujuk pada kearifan lokal kita,” sambutnya.

Baca Juga: Kerennya Andri Sutami dan Agus Supriatna Angkat Limbah Daur Ulang Plastik

Selain itu, keunikan dari pergelaran busana daerah ini, adalah material yang digunakan merancang busana yang berasal dari limbah daur ulang plastik. Antara lain; karung beras, botol bekas minuman mineral, dan bahan lainnya. Material ini dipadu dengan bahan pendukung lainnya, seperti kain puring, cat, lem, serta aksesories pendukung, sepatu, selop, giwang, kalung, iket kepala dan lain-lain.

Melalui pergelaran ‘Parade Busana Daerah Ke-10’ ini, para perancang busana asal daerah, terbukti demikian piawai menunjukkan kemampuannya mengungkap berbagai pesan budaya melalui karya-karyanya. Keindahan dan kreatifitas yang mereka tampilkan, setidaknya mampu menetralisir kejenuhan penonton dari acara seremonial dan hiburan yang menyita waktu lebih lama daripada acara parade busana sesungguhnya.

Apalagi ternyata, sampah daur ulang bisa memancarkan ragam keindahan kala dikemas, ditata, dikreasikan dengan sentuhan seni. Yang tidak kalah penting, kreativitas ini bisa menjaga ekosistem atau setidaknya mengurangi beban alam dari tumpukan sampah plastik.

Ismail Sidik