travelounge.co | Jakarta, Jumat, 9 Februari 2026 – Yayasan Amai Setia kembali mendapat sorotan dalam diskusi Road to Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di IDN HQ, Jakarta.
Yayasan yang didirikan lebih dari satu abad lalu ini menjadi bagian penting dari warisan pemikiran Roehana Koeddoes dalam memperjuangkan pendidikan dan kemandirian perempuan.
Hingga kini, Yayasan Amai Setia dikenang sebagai fondasi awal gerakan literasi perempuan di Indonesia.

Yayasan Amai Setia dan Perjuangan Pendidikan Perempuan
Yayasan Amai Setia didirikan Roehana Koeddoes pada 1911 di Kota Gadang, Sumatra Barat, di tengah keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan pada masa itu.
Melalui yayasan ini, perempuan tidak hanya diajarkan membaca dan menulis, tetapi juga dibekali keterampilan praktis yang menunjang kemandirian ekonomi.
Ketua Yayasan Amai Setia, Trini Tambu, menjelaskan bahwa nilai dasar tersebut masih dijaga hingga hari ini.
“Kami menjaga legasi pemikiran Roehana Koeddoes melalui Yayasan Amai Setia, yang sejak awal bertujuan membangun kemandirian perempuan,” kata Trini Tambu.
Pendekatan pendidikan yang dirintis Roehana Koeddoes menempatkan perempuan sebagai subjek perubahan sosial.
Karena itu, pendidikan di Yayasan Amai Setia tidak berhenti pada aspek intelektual, tetapi juga menyentuh kebutuhan hidup sehari-hari.
Model ini menjadikan perempuan lebih percaya diri dalam mengambil peran di keluarga dan masyarakat.
Nilai kemandirian tersebut juga tercermin dalam gagasan Roehana tentang pentingnya literasi.
Dalam diskusi Road to HPN 2026, jurnalis dan pendiri Narasi, Najwa Shihab, menilai Roehana Koeddoes memiliki pandangan yang jauh melampaui zamannya.
“Roehana Koeddoes memahami sesuatu yang sampai sekarang masih kita perjuangkan. Literasi membuat perempuan berpikir, kemandirian ekonomi membuat perempuan kuat, dan tulisan membuat suara itu sampai,” ujar Najwa Shihab.
Menurut Najwa, Roehana Koeddoes tidak menunggu ruang publik dibuka bagi perempuan.
Sebaliknya, ia menciptakan ruangnya sendiri melalui pendidikan dan media.
Relevansi Yayasan Amai Setia di Era Modern

Dalam konteks saat ini, Yayasan Amai Setia dipandang sebagai contoh pendidikan berbasis komunitas yang masih relevan.
Di era digital, literasi tetap menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang kritis.
Namun, tantangan ekonomi membuat keterampilan praktis juga semakin dibutuhkan.
Karena itu, pendekatan yang dirintis Roehana Koeddoes dinilai masih sesuai dengan kebutuhan zaman.
Ketua Umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Khairiah Lubis, menegaskan bahwa perjuangan Roehana Koeddoes menjadi fondasi penting bagi gerakan jurnalis perempuan.
“Bagi jurnalis perempuan, Roehana Koeddoes adalah spirit. Perjuangannya membuat kami tidak memulai dari nol karena sudah ada fondasi yang kuat,” kata Khairiah Lubis.
Ia menambahkan bahwa pendidikan dan keberanian bersuara merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.
Nilai tersebut juga tercermin dalam perjalanan Yayasan Amai Setia sebagai ruang belajar dan pemberdayaan.
Melalui perawatan ingatan terhadap Yayasan Amai Setia, publik diajak melihat akar sejarah perjuangan pendidikan perempuan.
Lebih dari sekadar lembaga bersejarah, Yayasan Amai Setia merupakan warisan gagasan Roehana Koeddoes yang terus hidup dan relevan hingga kini.(Harish E.)













