Archipelago Tourism dan Marine Tourism Potensial Jadi Modal Pariwisata Berkelanjutan

TRAVELOUNGE.CO I JAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menyatakan, Archipelago Tourism dan Marine Tourism potensial jadi modal pariwisata berkelanjutan. 

Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh, dalam webinar STDev Forum bertajuk “Pengembangan dan Penataan Model _Archipelago Tourism_ and _Marine Tourism_ Di Era Adaptasi Kenormalan Baru”, beberapa waktu lalu, mengatakan potensi wisata bahari dan kepulauan di Indonesia sangat besar dan beranekaragam. Hal ini diyakini dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

“Dalam konteks yang strategis ini, kita ingin memastikan bahwa potensi bahari dan potensi kepulauan di Indonesia dapat menjadi modal dalam meningkatkan kualitas pariwisata serta membangun sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan). Karena, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, mulai dari pantainya yang indah serta berbagai macam kepulauan unik yang dapat kita gali potensi wisatanya. Sehingga wisata bahari dan wisata kepulauan Indonesia dapat menjadi _top of mind_ bagi wisatawan,” kata Frans.

Melalui webinar ini, Frans berharap masyarakat Indonesia khususnya pelaku usaha pariwisata akan mendapatkan _insight_ atau pemahaman baru mengenai pengembangan dan penataan _archipelago tourism_ dan _marine tourism_. Selain itu dapat memperkuat pendekatan dan strategi baru untuk meningkatkan kualitas pariwisata dan pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan referensi pasar nusantara maupun mancanegara.

Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa narasumber, yaitu Kelompok Ahli Gubernur Bali Bidang Pariwisata Cipto Aji, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur Wayan Darmawan, Gunawan, Kelapa Balai Taman Nasional Wakatobi Darman, CEO Sustainable Management Group David Makes, dan Guru Besar dan Tenaga Ahli Pusat Studi Pariwisata Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Dr. M. Baiquni, M.A.

Kelompok Ahli Gubernur Bali Bidang Pariwisata, Cipto Aji Gunawan mengatakan bahwa Indonesia mendapat predikat terbaik dalam kategori _marine tourism_. Hal ini dapat dilihat dari pusat terumbu karang dunia yang 65 persen dimiliki oleh Indonesia.

“Pusat terumbu karang menjadi penting karena memberikan kontribusi yang cukup besar bagi sektor pariwisata. Ada tiga jenis wisata yang terkait dengan terumbu karang yaitu wisata diving snorkling atau sering disebut wisata bawah air, lalu wisata memancing, dan pusat surfing dunia. Oleh karena itu, tidak bisa disanggah bahwa _marine tourism_ Indonesia memang unggul,” ujar Cipto.

Archipelago Tourism dan Marine Tourism Potensial Jadi Modal Pariwisata Berkelanjutan

Cipto melanjutkan, untuk wisata surfing terdapat 52 lokasi di Indonesia. Lalu, terdapat 68 lokasi untuk wisata diving. Terakhir, terdapat 20 lokasi wisata memancing. “Lokasi tersebut kemungkinan akan bertambah dikarenakan adanya pembukaan destinasi wisata baru. Untuk itu, kita perlu membuat suatu pemetaan terbaru terkait dimana saja lokasi destinasi wisata yang dapat kita kembangkan lagi serta menjadikan lokasi tersebut sebagai _sustainable tourism_,” kata Cipto.

Hal senada juga disampaikan Kelapa Balai Taman Nasional, Wakatobi Darman, bahwa Indonesia merupakan salah satu segitinga terumbu karang dunia. Destinasi wisata yang memiliki potensi terumbu karang yakni di Wakatobi, karena memiliki luas terumbu karang 54,500 hektare.

Baca Juga: Wisata Olahraga Bangkitkan Pariwisata Pascapandemi

Selain itu potensi sumber daya alam lainnya yang ada di Wakatobi, antara lain mangrove, habitat penyu, ekosistem lamun, habitat burung pantai, habitat mamalia laut, dan ikan ekonomis.

“Dengan segala potensi sumber daya alam yang ada di Wakatobi, kebijakan pengelolaan yang kita terapkan yaitu penataan zonasi wisata sesuai dengan fungsinya, menyusun kajian daya dukung ekowisata bahari, menyusun SOP layanan pengunjung dan etika wisata, melakukan pengembangan sarana prasarana wisata alam, konservasi sumber daya perairan, pemberdayaan masyarakat di Wakatobi, serta meningkatkan promosi dan informasi di berbagai platform,” jelas  Darman.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wayan Darmawan menyebutkan Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi kepulauan dengan jumlah pulaunya sebanyak 1.192 buah. Dimana keberadaan pulau yang cukup banyak itu membawa manfaat yang luar biasa, karena di dalamnya memiliki kandungan potensi pariwisata yang sangat eksotik, baik wisata alam, wisata budaya, dan wisata baharinya.

Untuk memanfaatkan potensi _archipelago tourism_ dan _marine tourism_ provinsi NTT melakukan beberapa rencana strategis dalam percepatan peningkatan pariwisata di era normal baru ini. Salah satunya dengan pembangunan pariwisata kepulauan dan bahari sebagai _ring of beauty tourism_ yang harus menyiapkan sesuatu yang berbeda, seperti penyiapan kapal pesiar bagi wisatawan nusantara untuk berkeliling ke seluruh destinasi wisata yang ada di NTT.

“Hal ini dilakukan, karena sering kali kita lebih memanjakan wisatawan mancanegara dari pada wisatawan nusantara. Padahal potensi wisatawan nusantara cukup baik. Tinggal bagaimana sarana transportasi lautnya diperbaiki, sehingga tidak lagi menggunakan kapal penumpang biasa,” kata Wayan.

Menurut Wayan untuk menjamin _archipelago and marine tourism_ berkesinambungan, maka dalam pembangunanya perlu diperhatikan aspek kultur budaya setempat.

Wayan juga mengatakan, saat ini yang terpenting dalam membangun _sustainable tourism_ adalah membangun kepercayaan wisatawan dalam penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (_Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability_) di tiap destinasi wisata di Indinesia. “Hal ini harus dilakukan secara konsisten dan taat,” katanya.

Ismail Sidik