travelounge.co | Jakarta, 18 Februari 2026 – Pameran otomotif IIMS 2026 di JIExpo Kemayoran menampilkan lonjakan jumlah merek mobil di tengah sinyal ekonomi “Rojali” yang mencerminkan kehati-hatian konsumen.
Ajang tahunan ini mempertegas dinamika industri otomotif nasional yang menghadapi tekanan daya beli serta perubahan lanskap persaingan global.

Di saat pameran Jakarta ini diproyeksikan menjadi katalis pemulihan, data pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan tantangan belum sepenuhnya reda.
Seorang pengunjung mengaku kebingungan melihat banyaknya pilihan merek mobil di arena pameran.
Pernyataan itu menggambarkan realitas baru pasar, ketika dominasi lama mulai tergerus oleh ekspansi pemain baru, khususnya dari Korea dan China.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membuka IIMS 2026 yang diikuti 35 merek mobil, 26 merek motor, serta ratusan industri pendukung.
Pameran berlangsung selama 10 hari hingga 15 Februari 2026, hanya berselang beberapa hari sebelum Ramadan.
Di balik semarak booth besar dan peluncuran produk baru, pelaku industri menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Sejumlah eksekutif otomotif disebut menghadapi target penjualan yang semakin sulit dicapai akibat turunnya daya beli dan sikap wait and see kelas menengah atas.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan total penjualan mobil 2025 mencapai 803.687 unit secara wholesales dan 833.692 unit secara ritel.
Angka ritel tersebut turun 6,3 persen dibandingkan 2024, sebuah koreksi yang signifikan bagi industri.
IIMS 2026 dan Sinyal Ekonomi Rojali
Fenomena rombongan jarang beli atau Rojali menjadi istilah yang kerap digunakan ekonom untuk menggambarkan perilaku konsumen yang lebih banyak melihat daripada membeli.
Pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat 5,11 persen secara tahunan, sementara target 2026 diarahkan ke level 6 persen.
Perbankan pun mendorong penyaluran kredit kendaraan bermotor dan kredit pemilikan rumah guna menggerakkan konsumsi non-esensial.
Jika kelas menengah atas tetap selektif membelanjakan uangnya, pertumbuhan ekonomi diperkirakan bertahan di kisaran 5 persen.
Dalam konteks ini, IIMS 2026 diharapkan menjadi pemicu transaksi, terutama menjelang musim mudik Lebaran.
Secara psikologis, momentum mudik kerap mendorong keputusan pembelian mobil baru demi kenyamanan keluarga.
Beragam segmen ditawarkan di pameran ini, mulai dari mobil compact, MPV keluarga, hingga MPV premium di atas Rp1 miliar.
Hampir semua merek memberikan insentif diskon dan promo pembiayaan untuk menarik minat pengunjung.
Ekspansi Mobil Listrik dan Persaingan Global
Tren mobil listrik menunjukkan peningkatan seiring insentif pemerintah dan perubahan preferensi konsumen.
Produsen asal China tampil agresif dengan booth besar serta narasi teknologi futuristik.
Rentang harga mobil listrik di pameran berada di kisaran Rp200 juta hingga Rp1 miliar per unit, membuka spektrum pasar yang luas.
Pemain lama dari Jepang seperti Toyota, Daihatsu, dan Mitsubishi masih memimpin secara wholesales pada 2025, namun tekanan kompetisi semakin terasa.
Pasar juga diramaikan merek Eropa seperti Citroen C3 yang dipasarkan sekitar Rp200 juta setelah adanya kesepakatan dagang Indonesia-Uni Eropa.
Kesepakatan perdagangan RI-AS berpotensi menurunkan harga mobil impor tertentu melalui relaksasi bea masuk.
Situasi ini menandakan pasar Indonesia tetap menarik, tetapi juga semakin padat pemain.
Proyeksi 2026 memperkirakan penjualan mobil nasional mencapai 850.000 unit, naik sekitar 5,4 persen dari realisasi 2025.
Namun, pertanyaan strategisnya bukan sekadar volume penjualan, melainkan keberlanjutan industri dalam jangka panjang.
Terlalu banyak merek yang bertarung tanpa regulasi yang jelas berisiko membuat pasar tidak efisien.
Di sinilah peran pemerintah menjadi krusial untuk memastikan aturan main transparan dan konsisten, sekaligus menjaga kepentingan industri nasional.
Optimisme tetap ada, tetapi realitas kompetisi dan sinyal ekonomi Rojali menjadi pengingat bahwa pemulihan membutuhkan lebih dari sekadar pameran dan diskon. (Herry/Rhadzaki)














