Pasar Teluk Gong, Indiskop, Sarana Hiburan dan Kreatifitas Masyarakat

TRAVELOUNGE.CO I JAKARTA, 24 November 2018 – Gambaran sebuah pasar tradisional yang selama ini hanya menjadi tempat yang menjual kebutuhan sehari-hari, tampaknya akan bergeser. Kelak keberadaan pasar rakyat bakal lebih semarak dan hidup karena dilengkapi sarana hiburan dan pusat kreasi (creative centre). Sebagai pilot project pasar tradisional bergaya mall ini adalah Pasar Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara.

Pasar Tradisional yang dikelola oleh PD Pasar Jaya ini, nantinya akan dilengkapi dengan sebuah bioskop yang bernama Indiskop (Bioskop Independen Indonesia). Ini bukan bioskop biasa, tapi berfungsi juga sebagai creative centre bagi masyarakat, terutama kalangan muda milenia untuk menyalurkan kreativitasnya.

Penggagas ide itu adalah Marcella Zalianty, Ketua Umum Parfi 56. Artis peraih piala citra yang menjabat Direktur PT Utama Keana Films ini berkeinginan agar dapat membuat jaringan bioskop bersegmen pasar ekonomi menegah ke bawah. “Pemda DKI Jakarta menyambut baik keinginan saya dan menyediakan sebagian ruangan di Pasar Teluk Gong, untuk diubah menjadi ruang bioskop dan creative community,” kata Marcella, saat mendampingi Sekretaris Daerah Pemda DKI Jakarta, Saefulla, meninjau proyek Indiskop di Pasar Teluk Gong, Jumat (23/11).

Walaupun berada di pasar tradisional dan dengan harga tiket relative murah – hanya sekitar Rp 15 – Rp 20 ribu – fasilitas Indiskop tidak kalah dengan bioskop yang berada di mal-mal. “Harga tiket tentu lebih murah, tapi fasilitras tidak jauh berbeda. Nyaman untuk hiburan,” ujar Masrcella. Indiskop memiliki dua teater. Masing-masing berkapasitas 112 penonton. Fasilitas bangku, sistem tata suara, proyektor dan layar tidak jauh berbeda dengan bioskop yang sudah ada. Rencananya, pemesanan tiket pun bisa dilayani secara online.

Baca Juga: PARFI 56 Dukung Potensi Pariwisata Maluku Lewat Film

Berdirinya Indiskop akan memberi keuntungan bagi produser film dan masyarakat. Untuk produser, pasar untuk ‘menjual’ hasil karyanya semakin terbuka lebar, sementara masyarakat bisa menonton film yang ditayangkan, terutama karya-karya produser dalam negeri.

Indiskop merupakan alternativ bagi peredaran film Indonesia yang sering mendapat perlakuan tidak adil dari pemilik jaringan bioskop meanstream. Di bioskop meanstream, kata Marcella, film lokal kerap langsung diturunkan karena dinilai sepi penonton. “Padahal jika diputar di bioskop dengan harga terjangkau, bisa jadi film yang dianggap tidak laku itu ternyata diminati oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah.”

Tidak cuma itu, keberadaan proyek yang juga melibatkan Badan Kreatif Nasional ini akan dilengkapi dengan Creative Community Center. Pada pagi hari sebelum jam tayang film, Indiskop dapat dimanfaatkan untuk mengadakan workshop dan pelatihan berkala bagi industri kreatif. “Tujuannya, memfasilitasi keberadaan UMKM untuk memamerkan produknya dan mengisi pusat jajanan kuliner nusantara,” kata Marcell.

Karena itu, Marcella menghimbau pemda-pemda di kota lain ikut mendirikan Indiskop sebagai sarana hiburan dan pengembangan kreativitas masyarakat. Investasinya tidak mahal tapi dampak yang ditimbulkan akan sangat besar,” tandas kakak kandung Olivia Zalianty ini.

Ismail Sidik