Pelaku Wisata dan Pertunjukan Musik Sinergi Bangkitkan Parekraf

TRAVELOUNGE.CO I JAKARTA – Para pelaku ekonomi kreatif terutama yang bergerak di sektor seni pertunjukan musik diajak untuk mempererat sinergi dengan pelaku wisata untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Tanah Air yang terdampak pandemi COVID-19.

Dalam Contact Music and Entertainment Week(end) (CMEW) dengan tema #WeWillSurvive, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, mengatakan Indonesia telah beberapa kali menjadi tuan rumah acara-acara festival musik dan pertunjukan bertaraf internasional seperti Java Jazz Festival, Hammersonic Festival, Asian Games dan Asian Para Games 2018, serta Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) 2018.

“Dengan pengalaman dalam acara-acara bertaraf internasional ini, saya yakin Indonesia memiliki kemampuan dan bisa menyelenggarakan berbagai acara bertaraf global,” kata Wishnutama.

Meski demikian, Wishnutama mengakui pandemi COVID-19 yang dialami oleh Indonesia dan seluruh negara di dunia memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap industri kreatif dan sektor pariwisata di Tanah Air. Sehingga, perlu ada sinergi yang kuat antara pelaku kreatif yang bergerak di sektor seni pertunjukan dan pelaku wisata dalam mengemas sebuah acara yang menarik untuk menggerakkan kembali kedua sektor yang saling berkaitan ini.

“Salah satu upaya yang bisa kita lihat di masa adaptasi kebiasaan baru ini adalah banyak penyelenggara pertunjukan yang membuat acara-acara pertunjukan secara daring. Sehingga, penonton dapat menikmati pertunjukan atau konser tersebut dari mana saja tanpa harus berkumpul di suatu tempat,” katanya.

Sinergi pelaku wisata tersebut sudah terlihat dalam pelaksanaan beberapa festival musik di Indonesia. Salah satunya dalam gelaran Prambanan Jazz Virtual Festival 2020 yang dilaksanakan secara daring dari Candi Prambanan. “Sinergitas ini juga mendapat dukungan penuh dari Kemenparekraf/Baparekraf dan acara ini mendapat respons yang sangat positif dari berbagai kalangan,” ucap Wishnutama.

Dalam kesempatan itu, Wishnutama menuturkan pihaknya juga telah melakukan berbagai program dan kebijakan untuk terus menjaga keberlangsungan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Seperti program #BeliKreatifLokal dan #BanggaBuatanIndonesia.

“Kedua program ini adalah gerakan nasional yang bertujuan untuk membangkitkan rasa bangga dan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap produk buatan dalam negeri. Terutama produk-produk yang diproduksi oleh pelaku usaha kecil dan menengah,” jelas Wishnutama.

BACA JUGA: Gali Potensi Pariwisata di Labuan Bajo Melalui “Aksilarasi”

Selain itu, Kemenparekraf/Baparekraf juga melaksanakan berbagai pelatihan dan webinar yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat dan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. Sehingga, ia berharap acara ini dapat menjadi wadah bagi para pelaku industri musik terutama promotor musik maupun promotor event untuk menambah wawasan dan pengetahuan sebagai dasar untuk menyusun strategi cara menyelenggarakan festival musik yang menarik dan meriah.

“Acara ini juga diharapkan dapat mendorong seluruh pelaku usaha di bidang industri musik dan hiburan agar bisa terus belajar, berdiskusi, dan berkembang di masa depan,” katanya.

Wishnutama mengungkapkan acara ini diharapkan dapat membentuk jaringan diskusi antar sesama promotor musik untuk memperkuat jaringan dan bertahan di masa pandemi COVID-19 yang memberikan dampak yang sangat besar di sektor pertunjukan.

“Acara ini juga menjadi suatu bentuk kepedulian terhadap pelaku bisnis dan hiburan di Tanah Air dan sebagai medium yang potensial agar dapat bangkit Kembali, We Will Survive. Saya sangat yakin dengan adanya wadah ini perkembangan di sektor industri musik dan hiburan di Indonesia akan bangkit kembali dengan sinergi yang baik yang dihimpun oleh Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) akan dapat memberikan semangat, wawasan, dedikasi, dan memulihkan mereka yang terdampak di masa pandemi ini menuju masa depan yang lebih baik lagi,” ungkap Wishnutama.

Sementara itu, Chairman APMI, Dino Hamid, menjelaskan asosiasi yang memayungi para promotor acara dan festival musik di Indonesia ini dibentuk pada 28 Oktober 2020 bertepatan pada Hari Sumpah Pemuda oleh dirinya beserta enam promotor musik terkemuka di Tanah Air. Yakni Dewi Gontha (penggagas Java Jazz Festival, Java Festival Production), Emil Mahyudin (Nada Promotama), David Karto (Synchronize Festival), Darshan Pridhnani (Hype Festival), Donny Junardy (Penggagas Hammersonic Festival), dan Anas Syahrul Alimi (penggagas Prambanan Jazz, Rajawali Indonesia).

“APMI berpegang pada lima pilar pedoman yaitu sosialisasi, komunikasi, diskusi, edukasi, dan distribusi yang diharapkan dapat ikut menyukseskan industri musik dan hiburan serta menjadi asosiasi penting yang dapat memberikan manfaat bagi para promotor musik di Indonesia,” jelas Dino.

Dino yang juga menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Berlian Entertainment ini berharap acara ini dapat memberikan wawasan dan gagasan baru bagi para pelaku usaha pertunjukan musik untuk berupaya bangkit dari keterpurukan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. “Acara ini merupakan wadah atau platform yang dapat memberikan pengetahuan, wawasan, dan strategi untuk mendorong seluruh pelaku usaha di bidang industri musik dan hiburan agar bisa terus belajar, berdiskusi, dan berkembang di masa depan dengan belajar dari para pakar dan praktisi yang berpengalaman dari pelaku event berkelas Internasional,” ujar Dino.

Selain Menparekraf/Kabaparekraf Wishnutama Kusubandio dan Dino Hamid, acara ini juga dihadiri oleh Head of Artist Management Tomorrowland, Nick Royaards; CEO North Agenda dan anggota tim produksi Coachella and Stagecoach, Sean Sandoval; Presiden Direktur PT Java Festival Production, Dewi Gontha; dan pendiri Rajawali Indonesia, Anas Syahrul Alimi. Selain itu, acara ini juga diisi dengan pertunjukan musik yang menampilkan Vira Talisa, Bruno Major, dan grup band .Feast.

(Ismail Sidik Sahib)