Sun. Oct 24th, 2021

TRAVELOUNGE.CO I JAKARTA – Di era kekinian, kopi saat ini bukan lagi sekedar minuman, tapi sudah menjadi lifestyle. Baik low, midle maupun hight class. Tak pelak kedai kopi menjamur. Ini rahasianya sukses berbisnis kopi kekinian

Sebagai produsen, Indonesia menduduki posisi keempat di dunia, dibawah Brasil, Kolombia dan Vietnam. Namun konsumsi kopi Indonesia tertinggi di dunia. Data BPS mencatat, tahun 2019, produksi kopi Indonesia mencapai 742.000 ton dan 50,6 persen diantaranya merupakan konsumsi dalam negeri.

‘’Jadi bisnis kopi di Indonesia saat ini bisa dibilang sangat dahsyat. Bukan hanya dahsyat di hulu, yakni dari para petani kopi, tetapi juga di hilir. Bahkan juga diantara keduanya, yakni para roastery,’’ ungkap Pambudi Prasetyo, founder Brew Brothers Community saat berbincang dengan Nina Nugroho, desainer #busanakerjamuslimah dalam Nina Nugroho Solution Live IG di akun @ninanugrohostore, Sabtu lalu.

Dalam episode ke 74 dibahas ‘Usaha Kopi Di Tengah pandemi’, karena saat ini usaha kedai kopi, terutama kopi kekinian begitu marak di sejumlah wilayah di Indonesia.

‘’Nina Nugroho Solution diselenggarakan sejak Februari 2020 lalu, namun karena pandemi, lalu formatnya diubah menjadi live Instagram sejak April. Didedikasikan untuk memberikan jawaban atau solusi berbagai tantangan yang dihadapi para wanita dengan multiperan. Kali ini Nina Nugroho Solution berbicara mengenai usaha kopi yang ternyata di tengah pandemi setahun terakhir, tidak banyak terimbas dan merupakan satu dari komoditas yang terus meningkat konsumsinya,’’ ungkap Nina Nugroho, saat sharing session bersama pemilik PT F&B Indoitalia tersebut.

Menurut Pambudi, dari 742 ribu ton produksi kopi, 98,6 persen dihasilkan oleh petani kopi rakyat. Negara hanya menghasilkan 0,8 persen dan swasta hanya 0,6 persen. Saat ini para petani kopi juga lebih suka menjual kopinya didalam negeri, karena harganya sangat bagus. Ada yang mencapai hingga Rp 1 juta per kg nya.

Pemilik LPK Indonesia Terang yang memberikan pelatihan berbisnis kopi kekinian tersebut, lebih lanjut menjelaskan, Indonesia saat ini tengah memasuki stage ke 4 dari perkembangan konsumsi kopi. State 1 personanya adalah para baby boomer, mereka yang berusia antara 56-74 tahun. Para baby boomer ini adalah konsumen kopi ready to drink, kopi sachet.

Stage 2 dipenuhi oleh para generasi X yang berusia 40 – 55 tahun. Stage ini dimulai dengan berkembangnya mesin kopi dan ditandai munculnya coffee shop global semacam Starbuck di tahun 1990 an hingga tahun 2005-2006. Stage 3 masuk ke generasi milenial berusia 24 – 39 tahun, ditandai dengan hadirnya kedai kopi lokal yang sekarang sudah sangat menjamur.

‘’Tidak berhenti disitu, Indonesia sudah memasuki stage ke 4 yang diramaikan oleh Gen Z, yaitu mereka yang berusia 8 – 23 tahun, ditandai dengan hadirnya coffee shop to go. Di beberapa SPBU, bank, kantor PLN dan bahkan kantor pegadaian sudah dihadirkan coffee shop jenis ini.

“Kalau kita lihat, market dari generasi millennial dan Gen Z ini total sebesar 145 juta orang. Sebesar itulah sekarang market untuk jenis kopi kekinian,’’ ungkapnya.

Kopi saat ini juga menjadi produk unggulan, yaitu produk yang dimintai baik di dalam maupun di luar negeri.
Menurut Pambudi, kendati budaya konsumsi orang Indonesia sudah mulai baik, tetapi mereka tidak fanatik terhadap merk atau produk tertentu.

BACA JUGA: Iwan Fals Belum Lupakan Pembatalan Tur 100 Kota

‘’Ketika kedai kopi A penuh misalnya, mereka dengan ringan pindah ke kedai kopi yang lain. Jadi meski mungkin letaknya saling berdekatan, tetapi mereka justru saling support. Disamping itu, berbeda dengan restoran, orang datang ke kedai kopi dengan aneka tujuan. Kedai kopi itu melting pot orang dengan berbagai tujuan, mau nongkrong, kerja, meeting dan sebagainya. Karena itu bisnis kedai kopi ini relatif lebih stabil dibading bisnis lain,’’ tuturnya.

Dibandingkan bisnis F&B lain yang kebanyakan tersungkur saat pandemi, kedai kopi yang bermain di generasi milenial dan Gen Z ini relatif lebih cepat mengalami pemulihan.

Saat ini, karena kopi ini sedang digandrungi oleh generasi milenial dan Gen Z, maka yang sedang trend adalah kopi kekinian. Yaitu kopi yang tidak lagi hanya terdiri 3 bahan utama saja, kopi, air dan susu, melainkan sudah diberi bahan tambahan lain, seperti pandan, gula aren, oreo bahkan ada yang mencampur dengan air kelapa dan ternyata sangat disukai.

‘’Jenis kopi kekinian ini bisa sangat banyak, tergantung dari kreatifitas para pengelola kedai. Karena dimotori oleh generasi milenial dan Gen Z maka variasinya pun menjadi sangat tak terbatas. Mereka ini generasi yang sangat kreatif,’’ tambah Pambudi.

Dalam kesempatan itu, Pambudi memberikan resep bagaimana agar bisnis kopi bisa bertahan. Yang harus dimiliki para pelaku bisnis ini adalah menguasai 4 P yaitu promotion, produc, prize dan place. ‘’Analisa 4 P, tahu marketnya, baru kita buat produknya. Kadang terbalik, kita buat produknya dulu, baru cari pasarnya. Ini tidak betul,’’ tutup Pambudi.

Lanjutnya lagi, kalau ia mau memberikan masukan, ia harus lihat tempatnya. Kalau ada peserta yang buka kedai kopi, dikunjungi, karena sebenarnya banyak issue yang sebenarnya kita gak sadari kalau ternyata itu menghambat hubungan kita dengan kastemer.

“Waktu itu saya kunjungan ke cofee shop. Tempat rame, tapi kedainya sepi. Ternyata mohon maaf segmen marketnya masih di C. Sementara di menu dia pake bahasa, semisal coffee vsixty. Nama keren2 dan harga murah. Tapi orang gak familiar. Saya kasih masukan, supaya namanya diganti dengan kopi tubruk tanpa ampas. Ternyata begitu diganti lumayan ada perubahan, ” kilat Pambudi. Menurutnya, terkadang kita gak menyadari sudah menciptakan pagar dengan kastemer. Kita harus tahu market kita seperti apa.

Menjawab pertanyaan seorang penontonelalui akun @aliafathiya yang mengabarkan banyaknya kedai kopi yang tutup di daerahnya.

‘’Membuat minuman kopi ini bahannya simple. Hanya kopi, air dan susu. Tapi sebenarnya bisnisnya tidak sesimple itu. Dibutuhkan analisa yang tajam mengenai 4 P dan juga Analisa SWOT yang matang. Market di daerah itu siapa, sehingga kopi harus ditampilkan dengan nama seperti apa, berapa harganya bagaimana mempromosikannya. Semuanya harus dipikirkan dengan matang. Kadang kita tidak sadar justru membuat penghalang dengan konsumen saat memberi nama yang sulit dipahami oleh konsumen yang datang ke kedai kopi tersebut. Bahkan pemilihan nama kopi juga bisa mempengaruhi penjualan,’’ pungkas Pambudi.

(Ismail Sidik)