Sat. Oct 16th, 2021

TRAVELOUNGE.CI I JAKARTA – Faktanya, Menteng memang kawasan elit di Jakarta sejak jaman kolonialisme. Dan agak sulit juga rasanya jika bicara Jakarta tapi tidak ngomongin sebuah taman hijau penuh pepohonan yang dikenal dengan nama Taman Suropati alias Tamsur.

Taman Suropati yang berlokasi di sisi utara jalan Diponegoro, Jakarta Pusat jelas bukan taman kaleng-kalengan. Konon, pusat Kota Menteng merupakan sebuah Lapangan Bundar –cikal bakal Taman Suropati– yang menjadi tempat titik temu dari jalan-jalan utama, yaitu Menteng Boulevard (Jalan Teuku Umar), Orange Boulevard (Jalan Diponegoro), dan Nassau Boulevard (Jalan Imam Bonjol). Yang menggarap kawasan ini adalah arsitek P.A.J. Moojen pada tahun 1912. Sayangnya, lantaran Lapangan Bundar terlalu luas dan berpotensi menghambat kelancaran lalu lintas, rancangan Moojen pun sedikit diubah.

Pada tahun 1918, pemerintah Kota Batavia saat itu menunjuk lagi seorang arsitek baru F.J. Kubatz dan F.J.L. Ghijsels untuk menyempurnakannya. Bersamaan dengan itu, rencana pembangunan Taman Suropati dimulai. Dalam buku Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe (2018) dijelaskan, seiring waktu, pemerintah kota Batavia saat itu sudah mulai menanam pohon maupun bunga sejak 1920. Lapangan yang kini disebut sebagai Taman Suropati ini sejak tahun 1920 sudah menggantikan Lapangan Bundar yang luas dalam rencana Moojen sebagaimana dituturkan dalam buku karya Zaenuddin HM itu.

BACA JUGA: JD.ID Resmikan Gerai JD HUB di The Elements Apartment

Terkait Taman Suropati yang termasuk dalam penyempurnaan rencana Moojen, Adolf Heuken dan Grace Pamungkas dalam buku Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia (2001) turut mengungkap Taman Suropati sebagai pusat Menteng yang dikenal sebagai tempat pertemuan poros timur-barat dan utara-selatan Jakarta.

Kiranya, itulah yang membuat taman yang memadukan bentuk persegi dan lingkaran dengan ragam fasilitas penunjang ini, membuatnya menjadi salah satu taman dengan kualitas terbaik di Kota Jakarta. Sebab, di antara ornamen-ornamen yang mengisi taman yang dulunya sempat bernama Burgemeester Bisschopplein, ada banyak patung-patung karya perupa atau pematung dari seluruh ASEAN.

Taman Suropati ini benar-benar menjadi tempat rehat, olahraga atau berekspresi seni. Selain dirimbuni pepohonan, ada joging track, air mancur, kandang burung, kawasan bermain anak dan areal yang biasa dipakai untuk berlatih kesenian, semisal paduan suara, violis atau trompetis. Asyiknya lagi ada gerai buku yang bisa dibaca dengan gratis.

Pada malam hari, Taman Suropati masih terlihat ramai dengan ragam aktivitas. Ada yang menikmati udara malam Kota Jakarta, sambil menyantap makanan ringan mulai dari sate, nasi goreng, atau tahu gejrot yang tukangnya banyak di seputaran Taman Suropati. Dan jangan lupa, disekitaran Taman Suropati ada Rumas Dinas, Wapres RI, Gubernur DKI, Gedung pwrumusan Naskah Proklmasi dan sebagainya. Keren kan…..

(Ismail Sidik Sahib)