travelounge.co | Jakarta, 22 Januari 2026 – Tren wisata 2026 di Indonesia semakin beragam dan dipengaruhi oleh fenomena viral di media sosial. Para traveler Nusantara kini tak hanya mengincar destinasi populer, tetapi juga pengalaman autentik dan ramah kantong. Mulai dari berburu street food kekinian hingga menjelajah hidden gem tersembunyi, inilah tren wisata aktual yang tengah naik daun pada 2026.

Tren Wisata 2026: Kuliner Daerah Viral yang Bikin Penasaran
Sepanjang 2025 hingga awal 2026, platform seperti TikTok dan Instagram menjadi etalase utama tren kuliner daerah. Makanan khas yang unik dan fotogenik mudah viral, memicu traveler untuk datang mencicipi langsung. Akibat hype media sosial, tak jarang kuliner viral menimbulkan antrean panjang di gerai aslinya. Tren wisata 2026 pun diwarnai fenomena food hunting ke berbagai daerah demi mencoba hidangan hits tersebut.
Beberapa contoh kuliner daerah yang viral dan diburu wisatawan:
- Tahu Kocek – Camilan tahu goreng pedas asal Surabaya yang dicampur aci, kubis, dan sambal bawang ulek. Saking populernya di TikTok, tahu kocek langsung diserbu pembeli dan antreannya mengular.
- Cimol Bojot – Jajanan aci kenyal dari Bandung dengan aneka topping (pedas hingga keju). Viral di media sosial, camilan ini sampai diburu warganet di Jakarta, menimbulkan antrean di berbagai titik karena hype medsos.
- Dimsum Mentai – Kreasi dimsum dengan saus mentai creamy pedas gurih. Sepanjang 2025 menu ini laris manis dan diadopsi banyak kedai sebagai andalan kekinian.
Viralnya kuliner lokal ini tak lepas dari daya tarik visual dan cita rasa unik. Traveler millennial dan Gen-Z rela mengunjungi langsung kota asal kuliner tersebut demi konten dan pengalaman baru. Di Yogyakarta misalnya, warung legendaris Kopi Klotok yang terkenal dengan menu sarapan tradisional kini selalu dipadati wisatawan – antreannya bisa berjam-jam setiap akhir pekan. Tren kuliner viral 2026 ini sekaligus mendorong UMKM daerah berkembang seiring ramainya wisatawan pencinta kuliner.
Hidden Gem Baru yang Naik Daun dan Viral
Para pelancong Indonesia kini kian gemar mengeksplorasi destinasi anti-mainstream. Tren wisata 2026 menunjukkan meningkatnya minat terhadap tempat wisata tersembunyi (hidden gems) yang menawarkan keaslian dan suasana berbeda. Berkat sorotan media sosial serta ulasan positif pengunjung, lokasi yang dulunya kurang populer bisa mendadak viral dan ramai diperbincangkan. Fenomena ini membuat banyak stopover atau daerah singgahan justru menjadi tujuan utama perjalanan traveler masa kini.
Contohnya, deretan pantai indah di Gunungkidul, Yogyakarta yang dulu terpencil kini berubah jadi primadona wisata alam. Pantai-pantai eksotis seperti Indrayanti, Drini hingga Slili viral di media sosial dengan air jernih dan pasir putihnya, menarik ribuan pengunjung saat liburan. Begitu pula Obelix Hills di Yogya – spot baru di perbukitan yang menawarkan panorama sunset instagenik – sempat membuat akses menuju lokasinya macet karena membludaknya wisatawan penasaran.
Di perkotaan, ruang terbuka hijau pun bisa menjelma hidden gem populer. Contoh terkini di Jakarta adalah Lapangan Softball GBK Senayan yang viral sebagai alternatif tempat nongkrong sore hari. Berlokasi strategis namun jauh dari hiruk-pikuk, spot ini digandrungi warga ibukota untuk “healing” ringan sepulang kerja. Tribun penonton dimanfaatkan untuk duduk santai menikmati angin sore sambil menonton latihan softball, menghadirkan pengalaman unik di jantung kota.
Maraknya destinasi hidden gem dalam tren wisata 2026 dipicu keinginan traveler mencari ketenangan dan keunikan. Selain terhindar dari keramaian overtourism, berkunjung ke tempat yang belum banyak diketahui memberi sensasi tersendiri. Media sosial berperan besar “menemukan” permata tersembunyi ini, karena satu unggahan viral dapat langsung melonjakkan popularitas suatu tempat. Bagi daerah setempat, ini jadi peluang pariwisata baru asalkan dikelola dengan baik agar tetap lestari.
Wisata Budaya dan Festival Unik Makin Diminati
Pergeseran minat wisatawan nusantara terlihat dari sekadar hiburan menuju pengalaman yang lebih bermakna. Tren wisata 2026 juga ditandai oleh tingginya animo terhadap wisata budaya, tradisi lokal, dan festival unik. Traveler masa kini ingin terhubung dengan seni, sejarah, dan kearifan lokal di destinasi yang dikunjungi. Cultural immersion semacam ini menawarkan keaslian pengalaman serta kedekatan dengan kehidupan warga setempat, sesuatu yang tak didapat dari wisata massal biasa.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memproyeksikan tren wisata berbasis budaya akan terus tumbuh ke depannya. Hal ini tampak dari banyaknya desa wisata dan komunitas lokal yang bermunculan. Wisatawan tak ragu belajar menari tarian tradisional, mengikuti workshop kerajinan, hingga mencicipi kuliner khas langsung di rumah warga. Pendekatan komunitas ini dianggap lebih otentik dibanding hanya berfoto di spot mainstream.
Festival-festival daerah yang unik pun mulai menarik perhatian luas. Misalnya Rambu Solo’ di Tana Toraja, Sulawesi Selatan – upacara pemakaman adat dengan ritual khas – kini sering masuk agenda perjalanan traveler pecinta budaya. Kawasan Toraja sendiri menawarkan lanskap pegunungan hijau berkabut yang eksotis, berpadu dengan tradisi rumah tongkonan dan ritual megah yang memukau wisatawan pencari pengalaman otentik. Contoh lain, Festival Pasola di Sumba atau Dieng Culture Festival di Jawa Tengah, setiap tahunnya kian ramai dikunjungi karena keunikan atraksi budayanya tersebar viral di media sosial.
Pemerintah dan pelaku wisata lokal terus mempromosikan event budaya sebagai daya tarik. Berbagai festival tradisional digelar dan dikemas menarik bagi generasi muda. Dampaknya, wisata budaya tak lagi membosankan, malah menjadi tren wisata 2026 yang memberikan perspektif baru bagi traveler. Selain mendapat hiburan, wisatawan pulang dengan pemahaman lebih dalam tentang kearifan lokal Nusantara. Ini sejalan dengan spirit liburan era kini: tak sekadar senang-senang, tapi juga mencari makna dan keterlibatan pribadi dengan destinasi.
Staycation Hemat dan Micro-Tourism Kian Populer
Satu lagi tren menonjol pascapandemi adalah meningkatnya staycation dan wisata jarak dekat yang ramah budget. Banyak orang memilih liburan singkat di dalam kota atau area terdekat alih-alih perjalanan jauh. Faktor kenyamanan, keamanan, dan tentu saja biaya menjadi pertimbangan utamanya. Survei RedDoorz menemukan 86% traveler Indonesia lebih memilih berwisata di dalam negeri pada akhir 2025, didorong oleh alasan penghematan biaya serta kecantikan alam lokal. Pola ini diproyeksi berlanjut pada tren wisata 2026, di mana liburan domestik yang sederhana namun berkesan tetap jadi favorit.
Berkaca dari data platform akomodasi, destinasi staycation terpopuler di Indonesia mencakup kawasan pegunungan sejuk dan kota besar dengan banyak hiburan. Bandung, Puncak, Bogor hingga Jakarta tercatat menyedot wisatawan terbanyak untuk staycation. Hal ini tak mengherankan: Bandung dan Bogor menawarkan udara segar serta kuliner enak dekat ibu kota, sementara Puncak sudah lama jadi pilihan libur akhir pekan warga Jakarta. Di sisi lain, city staycation di Jakarta sendiri mulai tren bagi warga yang ingin menikmati fasilitas hotel berbintang tanpa pergi jauh. Paket promo hotel yang menjamur turut membuat tren ini semakin diminati.
Tren micro-tourism juga berkembang, di mana warga memilih eksplorasi objek wisata di sekitar domisilinya saja. Misalnya penduduk Jakarta “main” ke Tangerang atau Bekasi, atau sebaliknya, untuk mengunjungi kafe tematik, taman kota, atau museum lokal. Konsep healing tanpa harus keluar kota ini sejalan dengan gaya hidup praktis dan hemat biaya. Waktu perjalanan yang singkat serta budget yang bersahabat membuat wisata dekat rumah kian digandrungi semua kalangan.
Tak hanya hemat, staycation dan wisata lokal memberi perspektif baru akan tempat tinggal sendiri. Banyak yang baru menyadari keindahan di sekitar setelah mencoba jelajah lokal. Pemerintah daerah pun mendukung dengan mempercantik ruang publik, membuka destinasi baru, hingga mengadakan event mingguan agar warga betah berwisata di wilayahnya. Tren liburan dekat rumah ini membuktikan bahwa untuk bersantai dan bersenang-senang, kita tak selalu perlu pergi jauh. Asal pandai mencari celah, setiap sudut Indonesia punya potensi rekreasi menarik untuk dijelajahi.
Kesimpulan: Liburan 2026 Makin Berwarna
Beragamnya tren wisata 2026 di atas menunjukkan bahwa pilihan traveler Indonesia kian out of the box. Dari mencicipi kuliner daerah viral, mengunjungi hidden gem anti-mainstream, meresapi budaya lokal, hingga bersantai hemat ala staycation – semuanya menawarkan daya tarik tersendiri. Yang jelas, media sosial akan terus menjadi pemicu utama tren liburan, sementara kesadaran akan makna dan kualitas pengalaman pun meningkat.
Jadi, sudah tentukan agenda perjalanan Anda tahun ini? Apapun gaya liburannya, Indonesia menyediakan panggung luas untuk petualangan. Yuk, eksplor keunikan nusantara yang tak ada habisnya. Selamat berwisata! (Rhadzaki)













