Pemerintah Diminta Beri Perhatian Pada Karya Sastra “Cerita Panji”

TRAVELOUNGE.CO I JAKARTA – Dari berbagai literatur,  kumpulan cerita Panji sejatinya dituturkan sejak jaman kerajaan Majapahit. Seiring berjayanya Majapahit cerita Panji pun menyebar ke berbagai daerah. Oleh karena bernilai tinggi, Pof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro mengharapkan Pemerintah memberi perhatian dan pembinaan yang memadai terhadap seni budaya berbasis tradisi, khususnya karya sastra “Cerita Panji”.

“Cerita Panji populer sejak abad ke-13 kemudian menyebar ikut dengan Majapahit ke Bali, Lombok, dan Sulawesi Selatan. Cerita itu lalu menyeberang ke Malaysia. Di sana namanya hikayat. Kemudian cerita itu sampai ke Thailand, namanya Inao,” kata Wardiman yang mantan Menteri Pendidikan ini.

Penyebaran kisah panji ke mancanegara sejak berabad lalu diamini Nooriah binti Mohamed, peneliti budaya Jawa dari Universitas kebangsaan Malaysia. Menurutnya, berdasarkan teks sejarah Melayu atau the Malay Annals, penyebaran kisah Panji ke Tanah Melayu dimungkinkan berkat perkawinan Raja Malaka, Sultan Mansyur Syah, dengan putri raja dari Majapahit.

Jejak cerita Panji di sejumlah daerah dapat ditelusuri melalui naskah-naskah kuno. Peneliti naskah-naskah ini adalah Roger Tol dari Universitas Leiden, Belanda. Menurutnya  terdapat lima manuskrip cerita Panji di Perpustakaan Negara, Malaysia; satu naskah di Perpustakaan Kamboja; 76 naskah di Perpustakaan Nasional, Indonesia; dan 250 naskah di Perpustakaan Leiden, Belanda.

Menurut Roger Tol, naskah-naskah ini ditulis dalam bahasa setempat. Di Indonesia, misalnya, ada dalam bahasa Bugis, Jawa Kuno, Aceh. Kemudian bahasa Khmer di Kamboja dan bahasa Melayu di Malaysia. Yang tertua kami temukan itu dari tahun 1725, bahannya daun lontar.

“Sastra dan budaya Panji merupakan local genius nenek moyang kita yang sudah ada sekitar abad ke-14. Lebih dari 600 tahun lalu,” ujar Wardiman usai rapat persiapan Festival Budaya Panji Internasional, di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Senayan Jakarta pekan lalu.

Hadir dalam rapat tersebut, Wardat MY (Kepala Seksi Seni Pertunjukan Tradisi Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI), Suryandoro, S.Sn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Aji Damais (Pemerhati Budaya), dan Undung Wiyono (Staf Seksi Seni Pertunjukan Tradisi Direktorat Kesenian Kemendikbud).

Lebih jauh Wardiman, mendorong perlunya eksplorasi terhadap ‘Cerita Panji’, yang dapat menjadi alternatif cerita wayang. “Selama ini lakon-lakon wayang justru lebih didominasi cerita impor dari India, berupa Mahabarata dan Ramayana,” ujarnya lagi.

Wardiman juga mengharapkan, agar kalangan pendidik dapat menjadikan ‘Cerita Panji’ sebagai bahan baku ajar. Termasuk para pelaku industri kreatif diharapkan dapat mengeksplorasi ‘Cerita Panji’ dalam berbagai bentuk karya kreatif.  “Bisa dalam bentuk penulisan novel, seni rupa, grafis, komik, seni patung dan pahat, acara televisi, film, cenderamata, sebagai upaya conter culture terhadap budaya impor. Setidaknya menjadi penyeimbang,” paparnya.

Sejalan dengan itu dalam rangka menggairahkan kembali cerita rakyat berbasis tradisi ini, khususnya ‘Cerita Panji,’ akan digelar ‘Festival International Panji (Inao) Indonesia 2018’.  Gelar budaya ini akan dilaksanakan di empat kota besar, Denpasar 27-28 Juni 2018, Surabaya 2-3 Juli 2018,  Yogyakarta, 6-7 Juli 2018, dan di Jakarta 10-11 Juli 2018.

“Kita perlu memafhumi bahwa Panji tidak saja sastra, tetapi berkembang menjadi seni pertunjukan, antara lain; tarian, pentas wayang, topeng, dan seni kreatif lainnya. Di Jawa Timur budaya Panji diabadikan di sejumlah relief candi, dan situs-situs budaya lainnya,” kata Wardiman.

Berbagai potensi inilah yang akan ditampilkan dalam semangat festival. Tujuan program ini membangkitkan kembali sastra dan budaya Panji, melestarikan dan merayakan warisan bersama Panji (Inao) Asia Tenggara. “Untuk mendukung program itu, seminar internasional akan diadakan di Jakarta. Sanggar tari dari enam Negara Asia Tenggara, akan kita undang ke Denpasar, Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta, untuk bersama-sama menggelar seni tari Panji. Digelar juga pameran benda-benda sejarah Panji, seperti naskah kuno, lukisan, topeng, dan benda sejarah lainnya,” terang Wardiman.

Menurut Wardiman, banyak orang tidak tahu bahwa ‘Cerita Panji’, adalah karya sastra dan budaya Indonesia, yang pengaruhnya hingga ke luar negeri. ‘Cerita Panji’ memiliki banyak versi, dan telah menyebar ke seluruh jazirah Nusantara; Jawa, Bali, Kalimantan, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina.

Sejatinya Festival Panji ini digagas Kementerian pendidikan dan Kebudayaan untuk mempopulerkan kumpulan cerita Panji yang mengisahkan percintaan dan peperangan pada era Kerajaan Kediri di Jawa Timur. Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Indonesia dan negara-negara lain untuk mengajukan naskah Panji ke lembaga UNESCO untuk dijadikan ingatan kolektif dunia.

Cerita “Panji”, adalah kumpulan cerita masa Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kediri. Isinya mengenai kepahlawanan dan cinta, terkait dengan tokoh utamanya, Raden Inu Kertapati (Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana). Beberapa cerita rakyat seperti ‘Keong Mas’, ‘Ande-ande Lumut, dan ‘Golek Kencana’ juga merupakan turunan dari cerita ini.

Ismail Sidik